Paris.
Spring, 2nd 2012
Malam
itu, hujan turun dengan derasnya. Menghiasi lampu-lampu terang kota Paris
dengan tetesan-tetesan air yang datang dalam waktu yang bersamaan. Jalanan kota
masih terlihat ramai, beberapa orang mengenakan payung untuk melindungi tubuh
mereka dari tetesan air hujan. Tidak sedikit yang memakai satu payung untuk dua
orang. Katakan saja, mereka yang menggunakan satu payung untuk dua orang itu
adalah para muda-mudi yang sedang merajut tali asmara. Mereka sedang berada di
sebuah kisah indah yang tak pernah mereka tahu akan jadi bagaimana akhirnya.
Dan saat ini, di bawah Menara Eiffel yang juga
dihiasi datangnya hujan, tampak seorang pemuda tanggung, dengan mengenakan
jaket hitam ditambah syal hitam berdiri dalam diam sambil tangan kanannya
memegangi pegangan payung yang melindunginya. Sesekali pemuda itu melirik jam
tangan di tangan kirinya. Sudah hamper satu jam dia berada di tempat itu tanpa
berniat untuk meninggalkan tempat itu. Kalau kau tanya kenapa, karena hari ini
merupakan hari yang dinanti-nantikannya. Malam ini, dia berniat menyatakan
cintanya pada orang yang selama ini dikaguminya. 3 tahun bukanlah waktu yang
sebentar untuk memendam sesuatu tanpa diketahui siapapun.
Dia
sudah menghubungi gadis impiannya lewat pesan singkat. Dia harap gadis itu akan
datang memenuhi permintaannya. Cuacanya memang tidak terlalu mendukung, tapi
baginya ini sudah saat yang tepat. Karena sebentar lagi mereka akan lulus dari sekolah
dan pemuda itu tidak akan mau berpisah tanpa mengungkapkan perasaannya.
Untuk
beberapa saat, pikiran pemuda itu berputar ke waktu ketika pertama kali dia
merasakan jatuh cinta pada gadis itu. Sebut saja dia Lisa, salah satu mahasiswi
terbaik di sekolah. Matanya yang indah terlihat di balik kacamata yang ia
kenakan. Rambut panjang yang terurai dengan bebasnya tertiup angin, ditambah
otaknya yang cerdas. Itu semua sudah lebih dari cukup untuk bisa dijadikan
gadis idaman semua pria. Tapi seperti kebanyakan gadis-gadis ber-IQ tinggi
lainnya, mereka tidak menomor satukan soal cinta. Mereka lebih memilih untuk
bermesraan dengan buku-buku tebal sekolah yang sangat minim gambar. Yah,
ibaratnya pemuda ini mencoba menggapai puncak menara Eiffel tanpa alat-alat
bantu sama sekali.
Hal
yang sangat mustahil.
2 jam sudah berlalu,
waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu Paris. Hujan sudah tidak sederas
sebelumnya. Pemuda itu sudah melipat kembali payungnya. Lelah kedua kakinya
dari tadi bertahan untuk tetap tinggal tak bergerak. Malam yang semakin larut
membuatnya memutuskan untuk pergi, dengan tetap berpikir positif –menjadikan
hujan sebagai alasan kenapa gadis itu tidak datang. Oke, besok. Pasti bisa.
Melangkah
menyusuri malam dengan senyuman, kepala tegak dan membiarkan rambutnya basah
oleh rintik-rintik hujan yang tersisa. Pandangan matanya sesekali melirik kea
rah pertokoan disekitar menara Eiffel yang masih ramai. Beberapa restoran masih
membuka pintunya, dan satu toko buku yang jadi langganannya juga masih buka.
Beberapa pasangan masih tampak bermesraan di dalam restoran. Sungguh, Paris
benar-benar menggambarkan sebuah kota yang penuh dengan cinta dan keromantisan.
Senang rasanya dia bisa berada di tempat ini.
Namun,
kedua bola matanya saat ini tengah menangkap sesosok manusia yang tengah berada
di dalam sebuah restoran. Berambut panjang, berkacamata, dan yah kalian tahu
sendiri bagaimana deskripsinya. Mata pemuda ini terus menatapnya dari balik
kaca, dengan jarak yang cukup jauh. Itu dia. Lisa! Pemuda ini senang bukan
main. Tapi, kenapa Lisa berada di dalam sana? Kenapa tidak menemuinya di tempat
yang sudah dijanjikan? Terlintas keinginannya untuk masuk dan menghampiri gadis
itu. Tapi apa mau dikata, garis cerita romantis untuknya sepertinya tidak
berada pada gadis itu.
Beberapa
saat melangkah, dilihatnya seorang pria berjas hitam dengan dandanan super
mewah dan menawan, nyaris tampak seperti seorang bangsawan zaman modern. Sang
Bangsawan menunjukkan sesuatu pada Lisa, yang tidak diketahui siapapun kecuali
Lisa dan Bangsawan itu. Setelah beberapa detik, tampak Lisa tersenyum haru.
Senyumnya menggambarkan bahwa sesuatu yang indah sedang melanda hidupnya.
Sementara sang Bangsawan tampan itu terlihat tersenyum tidak kalah bahagianya
ketimbang Lisa. Dan kau perlu tahu, pemuda yang sedari tadi hanya memerhatikan
dari luar jendela, dengan dandanan super payahnya ini mencoba untuk mengetahui
apa yang terjadi.
Sebenarnya,
dia sudah melakukan kesalahan fatal. Dia terlalu ingin tahu, tanpa peduli apa
yang akan dirasakannya. Di tangan sang Bangsawan itu dia bisa melihat, sebuah
kotak kecil berisi dua buah cincin berlian mahal yang harganya mungkin akan
sanggup membayar biaya sewa kos selama 10 tahun ke depan.
Waktu
terasa berhenti berputar, orang-orang disekitarnya seakan-akan tegak diam
membisu. Tatapan matanya terus terpaku pada dua buah benda yang berada di dalam
kotak kecil itu. Hujan yang tiba-tiba datang lagi tidak membuatnya lekas
memakai payungnya lagi. Dibiarkannya tetesan-tetesan air hujan menyerang
seluruh tubuhnya. Menebas permukaan kulitnya secara langsung. Kata orang-orang,
kena tetesan hujan itu terasa sakit, apalagi kalau langsung mengenai bagian
kulitnya. Ya, memang sakit.
Tapi,
apa mereka tahu rasanya jantung hati yang tersayat benda tajam? Apa mereka
tahu? Tentu saja tidak. Hanya Jack yang tahu rasanya.
Paginya, Jack terbaring
di atas tempat tidurnya dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Pakaian yang
semalam dia kenakan masih menempel di tubuhnya. Matanya terlihat agak berbeda,
disebabkan hal bodoh yang dilakukannya semalam. Dia menangis. Hal terbodoh yang
dilakukan seorang pria. Baginya ini gila. Bisa-bisanya dia dibuat menangis oleh
seorang gadis. Tapi dia tidak dapat mengelak dari sakit yang dia rasakan. Ini
pertama kalinya Jack merasa seperti ini. Untuk semalam dia berharap bahwa dia
tidak pernah dilahirkan di dunia ini, apalagi sampai dipertemukan dengan sosok
Lisa.
Kamarnya dibiarkan
berantakan begitu saja. Tampak beberapa buah buku tebal berserakan di sana
sini. Bukan, itu bukan buku-buku tebal sekolahan. Itu merupakan novel-novel
koleksinya. Jack sendiri merupakan penggemar berat karakter fiksi Sherlock
Holmes ciptaan Sir Artur Conan Doyle dan juga Arsene Lupin ciptaan Maurice
LeBlanc. Baginya, kedua tokoh fiksi itu ditemukan oleh takdir.
Di tengah-tengah
kesedihannya, Jack sudah harus bergegas ke sekolahan untuk menghadiri upacara
kelulusannya. Benar, 3 tahunnya bersekolah dengan mengenakan seragam sudah akan
berakhir. Tidak lama lagi dia akan merasakan kerasnya dunia tanpa bimbingan
seorangpun. Jadi tidak ada gunanya juga dia menangis terlalu lama. Toh sekarang
Lisa sudah akan membangun kehidupannya sendiri. Tanpa pernah tahu bahwa seorang
pria bodoh sudah menantinya selama 3 tahun ini.
Upacara pelepasan
berlangsung tenang tanpa kegaduhan. Acara ini sendiri diakhiri dengan acara
pengambilan gambar bersama, tidak sedikit yang menggelar acara pertumpahan air
mata dengan beberapa orang temannya. Tapi tidak dengan Jack. Dia duduk
sendirian, menatap kosong halaman sekolahnya. Dia mencoba untuk tidak
memikirkan Lisa yang masih asik berfoto-foto dengan teman-temannya. Ya, Lisa,
yang sudah Jack anggap separuh masa mudanya sudah pergi, menjadi milik orang
lain. Sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal. Masa mudanya mungkin sudah berakhir,
tapi tidak hidupnya. Mungkin ada seorang perempuan yang kini tengah menanti
Jack di suatu tempat. Mungkin. Dan ngomong-ngomong Lisa sudah memberitahukan
kepada teman-temannya bahwa dia telah dilamar seorang pria kaya semalam. Tentu
saja Jack menjadi orang pertama yang tahu.
Diawali dengan sebuah
senyuman, Jack mengepalkan tangannya. Dia beranjak dari tempatnya, berjalan ke
arah Lisa yang kini sudah tidak terlalu sibuk mengambil foto. Ini kesempatan
terakhir untuknya. Benar.
“Selamat atas kelulusanmu.
Dan selamat menempuh hidup baru, Lisa.”
Diakhiri pula dengan
senyuman.


0 komentar:
Posting Komentar